Terdapat dua pandangan yang melatar belakangi siapa sosok pemuda, yaitu dari aspek normative dan aspek jiwa. Aspek normative memandang pemuda dari segi usia. Berdasarkan pandangan ini, pemuda ialah seseorang yang berusia 18-45 tahun. Sedangkan menurut pandangan dari aspek jiwa pada hakikatnya pemuda ialah siapa saja yang memilki jiwa muda, penuh semangat, ambisi, radikal, dan kemampuan untuk fast moving.
Pemuda selalu menjadi ikon yang ditonjolkan oleh sebuah bangsa. Seringkali kta menyebutnya generasi muda, penerus bangsa, bahkan agent of change di kalangan mahasiswa. Eksistensinya menunjukkan darah muda yang memiliki senmangat tersendiri yang mampu menciptakan sesuatu yang baru. Apalagi di era kini, banyak pemuda bangsa yang mengecap bangku perguruan tinggi, berbda dengan zaman dahulu saat masa perjuangan kemerdekaan, semua serba sulit. Jangankan untuk mengenyam bangku sekolah, untuk bertahan hidup saja membutuhkan militansi yang tinggi agar dapat lepas dari intaian dan belenggu penjajah.
Kreativitas serta intelelektualisme berangsur-angsur lahir dari generasi muda bangsa. Pembaharuan di segala bidang pun hendaknya tercipta dari tangan-tangan cekatan serta ide-ide mutakhir para pemuda bangsa
Pemuda pengukir sejarah bangsa
Sejarah bangsa Indonesia mulai berdirinya hingga kini tak dapat dipisahkan dari unsur pemuda. Diawali berdirinya Budi Utomotahun 1908. Dilanjutkan era kebangkitan nasionalisme masyarakat nusantara dengan diikrarkannya Sumoah Pemuda tahun 1928 yang merupakan sumpah untuk bersatu dalam satu kesatuan masytarakat, bangsa, hidup dalam satu wilayah, dengan satu tekad, semangat, tujuan, dan cita-cita membangun peradaban nusantara, Indonesia.
Ghandi menegaskan"My Nationalism is humanity" karena rasa cinta tanah air harus selalu dimiliki oleh bangsa karena sifatnya yang humanis. Maka pemudalah yang mapu mengokohkan kehidupan bangsa untuk menuju kesejatian dan perubahan.
Begitu pula kemerdekaan pada tahun 1945 yang diproklamirkan oleh founding fathers, Sukarno-Hatta, berkat pressure dari pemuda lah proklamasi tersebut terlaksana. Tak ada lagi romusha, kerja paksa, serta campur tangan dari pihak asing. Sukarno, presiden pertama RI mengirimkan banyak pemuda untuk study ke luar negeri ke negara berbasis industri, agar nantinya dapat kembali ke Indonesia membangun negara agar sejajar dengan bangsa asing. Itulah secuil harapan Sukarno pada pemuda saat masa pemerintahannya.
Nmaun dinamika politik terus bergulir dan tak terkendalikan oleh orde lama. Waktu berpiuhak pada orde baru sejak 5 juli 1959 dengan adanya dekrit presiden, akhirnya 1960 orde baru berkuasa di Indonesia. Alih-alih ingin melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, Indonesia mulai terjerumus dalam ideologi pembangunan. Sistem pemerintahan bernuansa monarchi Local dan militeristik, keberadaan parpol dan lembaga-lembaga legislatif hanya sebagai alat legitimasi penguasa. Meltusnya gerakan 30 September pada era ini membuat para pemuda yang studi di luar negeri tidak dapat kembali ke Indonesia.
Akhirnya reformasi besar-besaran meledak pada tahun 1998 oleh para pemuda, terutama mahasiswa. Perjuangan matia-matian dikibarkan dengan semangat dan militansi serta kerjasama rakyat Indonesia. Keruntuhan orde baru dipicu terjadinya krisis ekonomi pada 1997. Sebuah reformasi melahirkan masa transisi yang ditandai oleh euphoria demokrasi dengan munculnya ratusan parpol baru, yang juga disertai oleh dis organisasi dalam mekanisme pemerintahan. Maka tampaklah betapa vital eksistensi pemuda dalam sejarah bangsa.
Pemuda Dalam Visi Global
Krisis ekonomi yang berkecamuk pada awal 1997 melahirkan banyak masalah termasuk krisi peradaban yang biasa disebut krisis moral. Sementara itu arus globalisasi dan modern merebak hangat menjadi atmosfer dunia yang kemudian merangkul Indonesia dalam penerapan segala bidang kehidupan. Pemuda Indoesia yang berarti pula para remaja dan generasi muda mau tak mau pada akhirnya harus mengikuti arus modernisasi dan globalisasi.
Bangsa mulai berfikir secara universal mengenai tuntutan ekonomi dan kemapanan hidup agar tidak menjadi yang terasing dari sebuah masa yaitu globalisasi.
John Naisbitt mengatakan bahwa ketika kita berfikir universal maka tindakan kita semakin kesukuan, dan ketika kita berfikir lokal maka tindakan kita justru global. Dengan demikian mulai tampaklah individualisme dalam diri bangsa, dan globalisasi bisa-bisa menjadi penyakit yang menjalari diri bangsa. Sesungguhnya posisi pemuda semakin berat di era global ini. Banyak godaan serta pengaruh negatif yang muncul dari modernisme tersebut terlepas dari perkembangan IPTEK yang pesat dan harus mampu membawa pemuda Indonesia ke arah kemajuan dan ketangguhan intelektualitas.
Sekelompok orangn memandang bahwa globalisasi adalah suatu proses sosial atau proses sejarah bahkan suatu proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikan satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat. Namun hal tersebut juga harus ditilik kembali sesuai dengan tatanan kehidupan pemuda masa kini . Egoisme dan individualitas semakin memuncak, pengangguran merajalela, pengaruh obat-obatan terlarang juga makin santer terdengar selama ini. Banyak sudah korban berjatuhan, dan pemuda bangsa tak mampu lagi diandalkan untuk berjuang demi bangsa dan negara di era global.
Belum lagi kesedihan pemuda untuk menerima perbedaan yang makin lama makin menyeruak karena kesenjangan ekonomi dan sosial dalam diri bangsa Indonesia. Begitu pula perbedaan suku dan agama seringkali menimbulkan kericuuhan dan perpecahan. Intoleransi semakin marak melanda bangasa.
Globalisasi adalah kapitalisme yang paling mutakhir karena pada era kini kekuatan ekonomi sangat diperhitungkan dan mempengaruhi. Komersialisme pendidikan juga makin seru berkembang, begitu pula iming-iming dari pihak asing membuat bangsa Indonesia semakin konsumtif bukan produktif dengan daya saing yang rendah. "Bagaimana pula dengan identitas dan jati diri bangsa?"
Memang perjuangan pemuda era kini tidak dapat disamakan denga era revolusi kemerdekaan. Namun yang tak boleh kikis oleh masa adalah semangat juang serta jiwa kebangsaan yang solid dan harus selalu mendarah daging di tubuh para pemuda Indonesia. Semangat itulah yang akan membawa kita pada kemerdekaan dan ketangguhan bangsa yang utuh. Nasionalisme tak boleh luntur sejak sumpah pemuda diikrarkan. Globalisasi yang nasionalismepun tak boleh rapuh dan usang oleh dominasi kapitalis yang melekat erat akibat formalisme kebangsaan masa orde baru.
Pemuda harus berjiwa intelektual dan memilki daya saing tinggi untuk menjalani era global ini. Kualitas pemuda sebagai generasi penerus bangsa harus semakin baik dan kokoh baik meliputi pola pikir, pola hidup, aktivitas yang dijalani, maupun pendidikannya agar Indonesia tak semakin terjajah oleh dekadensi pemuda bangsa. Mari kita renungkan dan kita lakukan perubahan bersama-sama. Merdeka!!!
