Sabtu, 06 Juni 2009

Pemuda di Persimpangan Budaya Global

Pemuda adalah generasi bangsa, dan wacana tentangnya selalu menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan. Hingga detik ini tematik mengenai pemuda memang tak dapat lepas dari sejarah yang diukir oleh pemuda bangsa baik era dahulu maupun kini. Banyak asumsi yang muncul ketika kita menyebutkan satu nama yaitu" Pemuda". Gambaran yang muncul berkecamuk seiring dengan dinamika kehidupan pemuda bangsa, mulai perjuangan hingga titik darah penghabisan, intelektualitas, kreativitas, mode, sampai dekadensi moral yang membidik pula nama pemuda dilamnya. Pemuda memang memiliki unsur yang kompleks. Jadi sebenarnya siapakan pemuda?"
Terdapat dua pandangan yang melatar belakangi siapa sosok pemuda, yaitu dari aspek normative dan aspek jiwa. Aspek normative memandang pemuda dari segi usia. Berdasarkan pandangan ini, pemuda ialah seseorang yang berusia 18-45 tahun. Sedangkan menurut pandangan dari aspek jiwa pada hakikatnya pemuda ialah siapa saja yang memilki jiwa muda, penuh semangat, ambisi, radikal, dan kemampuan untuk fast moving.
Pemuda selalu menjadi ikon yang ditonjolkan oleh sebuah bangsa. Seringkali kta menyebutnya generasi muda, penerus bangsa, bahkan agent of change di kalangan mahasiswa. Eksistensinya menunjukkan darah muda yang memiliki senmangat tersendiri yang mampu menciptakan sesuatu yang baru. Apalagi di era kini, banyak pemuda bangsa yang mengecap bangku perguruan tinggi, berbda dengan zaman dahulu saat masa perjuangan kemerdekaan, semua serba sulit. Jangankan untuk mengenyam bangku sekolah, untuk bertahan hidup saja membutuhkan militansi yang tinggi agar dapat lepas dari intaian dan belenggu penjajah.
Kreativitas serta intelelektualisme berangsur-angsur lahir dari generasi muda bangsa. Pembaharuan di segala bidang pun hendaknya tercipta dari tangan-tangan cekatan serta ide-ide mutakhir para pemuda bangsa

Pemuda pengukir sejarah bangsa

Sejarah bangsa Indonesia mulai berdirinya hingga kini tak dapat dipisahkan dari unsur pemuda. Diawali berdirinya Budi Utomotahun 1908. Dilanjutkan era kebangkitan nasionalisme masyarakat nusantara dengan diikrarkannya Sumoah Pemuda tahun 1928 yang merupakan sumpah untuk bersatu dalam satu kesatuan masytarakat, bangsa, hidup dalam satu wilayah, dengan satu tekad, semangat, tujuan, dan cita-cita membangun peradaban nusantara, Indonesia.
Ghandi menegaskan"My Nationalism is humanity" karena rasa cinta tanah air harus selalu dimiliki oleh bangsa karena sifatnya yang humanis. Maka pemudalah yang mapu mengokohkan kehidupan bangsa untuk menuju kesejatian dan perubahan.
Begitu pula kemerdekaan pada tahun 1945 yang diproklamirkan oleh founding fathers, Sukarno-Hatta, berkat pressure dari pemuda lah proklamasi tersebut terlaksana. Tak ada lagi romusha, kerja paksa, serta campur tangan dari pihak asing. Sukarno, presiden pertama RI mengirimkan banyak pemuda untuk study ke luar negeri ke negara berbasis industri, agar nantinya dapat kembali ke Indonesia membangun negara agar sejajar dengan bangsa asing. Itulah secuil harapan Sukarno pada pemuda saat masa pemerintahannya.
Nmaun dinamika politik terus bergulir dan tak terkendalikan oleh orde lama. Waktu berpiuhak pada orde baru sejak 5 juli 1959 dengan adanya dekrit presiden, akhirnya 1960 orde baru berkuasa di Indonesia. Alih-alih ingin melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, Indonesia mulai terjerumus dalam ideologi pembangunan. Sistem pemerintahan bernuansa monarchi Local dan militeristik, keberadaan parpol dan lembaga-lembaga legislatif hanya sebagai alat legitimasi penguasa. Meltusnya gerakan 30 September pada era ini membuat para pemuda yang studi di luar negeri tidak dapat kembali ke Indonesia.
Akhirnya reformasi besar-besaran meledak pada tahun 1998 oleh para pemuda, terutama mahasiswa. Perjuangan matia-matian dikibarkan dengan semangat dan militansi serta kerjasama rakyat Indonesia. Keruntuhan orde baru dipicu terjadinya krisis ekonomi pada 1997. Sebuah reformasi melahirkan masa transisi yang ditandai oleh euphoria demokrasi dengan munculnya ratusan parpol baru, yang juga disertai oleh dis organisasi dalam mekanisme pemerintahan. Maka tampaklah betapa vital eksistensi pemuda dalam sejarah bangsa.

Pemuda Dalam Visi Global

Krisis ekonomi yang berkecamuk pada awal 1997 melahirkan banyak masalah termasuk krisi peradaban yang biasa disebut krisis moral. Sementara itu arus globalisasi dan modern merebak hangat menjadi atmosfer dunia yang kemudian merangkul Indonesia dalam penerapan segala bidang kehidupan. Pemuda Indoesia yang berarti pula para remaja dan generasi muda mau tak mau pada akhirnya harus mengikuti arus modernisasi dan globalisasi.
Bangsa mulai berfikir secara universal mengenai tuntutan ekonomi dan kemapanan hidup agar tidak menjadi yang terasing dari sebuah masa yaitu globalisasi.
John Naisbitt mengatakan bahwa ketika kita berfikir universal maka tindakan kita semakin kesukuan, dan ketika kita berfikir lokal maka tindakan kita justru global. Dengan demikian mulai tampaklah individualisme dalam diri bangsa, dan globalisasi bisa-bisa menjadi penyakit yang menjalari diri bangsa. Sesungguhnya posisi pemuda semakin berat di era global ini. Banyak godaan serta pengaruh negatif yang muncul dari modernisme tersebut terlepas dari perkembangan IPTEK yang pesat dan harus mampu membawa pemuda Indonesia ke arah kemajuan dan ketangguhan intelektualitas.
Sekelompok orangn memandang bahwa globalisasi adalah suatu proses sosial atau proses sejarah bahkan suatu proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikan satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat. Namun hal tersebut juga harus ditilik kembali sesuai dengan tatanan kehidupan pemuda masa kini . Egoisme dan individualitas semakin memuncak, pengangguran merajalela, pengaruh obat-obatan terlarang juga makin santer terdengar selama ini. Banyak sudah korban berjatuhan, dan pemuda bangsa tak mampu lagi diandalkan untuk berjuang demi bangsa dan negara di era global.
Belum lagi kesedihan pemuda untuk menerima perbedaan yang makin lama makin menyeruak karena kesenjangan ekonomi dan sosial dalam diri bangsa Indonesia. Begitu pula perbedaan suku dan agama seringkali menimbulkan kericuuhan dan perpecahan. Intoleransi semakin marak melanda bangasa.
Globalisasi adalah kapitalisme yang paling mutakhir karena pada era kini kekuatan ekonomi sangat diperhitungkan dan mempengaruhi. Komersialisme pendidikan juga makin seru berkembang, begitu pula iming-iming dari pihak asing membuat bangsa Indonesia semakin konsumtif bukan produktif dengan daya saing yang rendah. "Bagaimana pula dengan identitas dan jati diri bangsa?"
Memang perjuangan pemuda era kini tidak dapat disamakan denga era revolusi kemerdekaan. Namun yang tak boleh kikis oleh masa adalah semangat juang serta jiwa kebangsaan yang solid dan harus selalu mendarah daging di tubuh para pemuda Indonesia. Semangat itulah yang akan membawa kita pada kemerdekaan dan ketangguhan bangsa yang utuh. Nasionalisme tak boleh luntur sejak sumpah pemuda diikrarkan. Globalisasi yang nasionalismepun tak boleh rapuh dan usang oleh dominasi kapitalis yang melekat erat akibat formalisme kebangsaan masa orde baru.
Pemuda harus berjiwa intelektual dan memilki daya saing tinggi untuk menjalani era global ini. Kualitas pemuda sebagai generasi penerus bangsa harus semakin baik dan kokoh baik meliputi pola pikir, pola hidup, aktivitas yang dijalani, maupun pendidikannya agar Indonesia tak semakin terjajah oleh dekadensi pemuda bangsa. Mari kita renungkan dan kita lakukan perubahan bersama-sama. Merdeka!!!


Mittos Kecantikan ( Sebuah Resensi )

Judul : Mitos Kecantikan
(Kala Kecantikan Menindas Perempuan)
Penulis : Naomi Wolf
Penerbit : Niagara
Tahun Terbit : 2004
Tebal : xii + 670 halaman
Peresensi : Dian


"Katakan pada setiap wanita bahwa mereka cantik." Naomi Wolf dalam bukunya berjudul Mittos Kecantikan mengupas secara tajam kecantikan perempuan dari berbagai sisi dan realita yang terjadi. Kecantikan yang kerap kali diagungkan dan didamba oleh oleh stiap wanita bahkan pria sebagai pasangannya, tak jarang pula menjadi momok yang menakutkan dan menghantui diri wanita yang ingin memilki kecantikan sempurna. Berbagai cara mereka lakukan untuk memproleh sebutan sebagai wanita cantik dari segi penampilan, budaya, bahkan kehidupan seksnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan kerja seringkali menuntut wanita untuk tampil cantik dan menarik, baik di industri media, fasion, maupun bisnis. Mempunyai kecantikan menjadi daya tarik tersendiri dan menimbulkan efek bagi pekerjaannya. Sesungguhnya mitos kecantikan muncul saat kita berada di tengah-tengah pertentangan melawan feminisme yang menggunakan citra kecantikan perempuan sebagai senjata politis untuk menentang kemajuan perempuan yang merupakan refleksi sosial akibat revolusi industri. Mitos kecantikan makin memperluas kekuasannya hingga menjadikan tol sosial dalam kehidupan.
Wanita yang indah, seharusnya tidak hanya dari segi wajah dan penampilan, namun juga intelektualitas serta profesionalisme. Perkembangan zaman mengubah wanita agar memiliki etos kerja yang tinggi, kekuasaan yang lebih yang lebih besar, pengakuan legal yang lebih dihargai, dan profesional yang lebih tinggi dibanding yang pernah terjadi sebelumnya. Wanita tak lagi identik bergumul di dapur, sumur, kasur, pengatur rumah tangga yang tak tahu dunia luar. Revolusi industri mencerminkan sebuah mitos, yaitu mitos kecantikan yang memunculkan sebuah obsesi tentang kesempurnaan fisik yang memanjakan perempuan modern dalam lingkaran harapan, kesadaran, serta lebih dari yang tak berujung ketika ia berusaha mengisi definisi masyarakat tentang kecantikan sempurna yang mungkin tidak mungkin diwujudkan dalam mitos kecantikan. Naomi wolf menceritakan hal-hal yang proaktif, persuiasif, dan menggemakan kebebasan. Layaklah ide-ide dan goresan penanya dijadikan sebagai wacana atau referensi bagi wanita Indonesia.

Resensi ini pernah dimuat di majalah Widyawara

Cita- Citaku Jadi Pustakawan

Jarang sekali kita dengar profesi pustakawan tercatat dalam daftar cita-cita orang di sekeliling kita. Dokter, pilot, bisnismen....ah itu sudah umum terdengar. Padahal profesi pustakawan berpengaruh penting dalam dunia global yang modern dan sarat akan informasi seperti saat ini dan mungkin masa yang akan datang. Pertama mendengar kata pustakawan pasti yang terlintas di benak banyak orang ialah melulu berkutat diantara seabrek buku, mencatat buku yang keluar masuk perpustakaan, berkacamata tebal, pendiam dan jomblo. Oleh karenanya jarang sekali anak muda yang mau jadi pustakawan.
Pustakawan berarti oarang yang bekerja di lingkungan perpustakaan dengan tugas mengorganisir, mengolah, dan menggambarkan informasi, baik dalam bentuk cetakan maupun digital. Di zaman modern seperti saat ini didefinisikan sebagai information expert in the information age. Pustakawan memilki pekerjaan yang dinamis, terampil dalam mengolah dan menyediakan informasi, selain itu seorang pustakawan harus mampu menguasai katalog klasifikasi buku-buku,dan komputer serta harus mampu negatiation skill.
Sebenarnya profesi ini cukup menjanjikan bila terus ditekuni dan bekerja dengan hati-hati, karena belum banyak yang mengincar posisi pustakawan sebagai profesi, tentunya makin luas peluang untuk terus mengembangkan program-program.
Untuk menjadi pustakawan yang sukses, gaul, dan pintar beberapa perguruan tinggi telah menyediakan jurusan kepustakaa. Buku adalah jendela informasi, tentunya pustakawan adalah gudang buku yang penuh dengan informasi dan membuka mata kita untuk mempelajari apa saja di dunia perpustakaan, tidak harus terkesan hening, sepi, dan membosankan. Untuk menciptakan gairah baca, perpustakaan kini sengaja dibuat asyik dan menarik, hip dan trendi penuh warna, bahkan full music. Namun musiknya harus disesuaikan. Kita tidak juga harus melulu membaca dengan serius di perpustakaan, banyak kegiatan yang dapat kta lakukan, diantaranya menulois, mencari informasi mengenai buku-buku, dan sebagainya.
Dari segi pustakawannya juga harus percaya diri, self esteemnya juga harus dibangun, karena dimana-mana, di luar negeri sekalipun, profesi pustakawan kurang dipandang. Pahadal mereka amat berguna, menjadi pustakawan muda yang intelek, berwawasan. dan pinter...so pasti!!

Rabu, 27 Mei 2009

Wanita dalam Goresan Pena (Sebuah Kajian Feminisme)

Pada era global seperti saat ini, tak ada yang membetasi sebuah gerak dan aksi dalam segala hal, begitu pula bersastra. Segala ekspresi bisa diluapkan dan dibingkai dalam sebuah karya sastra yang akan memberikan pemaknaan lebih dalam pada setiap ide yang disampaikan oleh penulis. Bersastra merupakan sebentuk kegiatan yang berproses dan universal. Baik pria maupun wanita berhak mencurahkan ide-idenya dalam goresan pena.

Sejak zaman kolonial, wanita terbatasi dalam geraknya oleh aturan-aturan adat dan masyarakat masa lampau. Dalam pengkisahannya pun, ketika masa Balai Pustaka, seolah-olah wanita menjadi sosok yang terikat, selalu diatur, dan dibentuk menjadi sosok yang pendiam dan selalu menurut. Tak ada luapan emosi, unsur pemberotakan, dan karakter pemberani yang terdeskripsikan dari sosok wanita di dalamnya. Contohnya dalam novel berjudul Siti Nurbaya, karya Abdul Muis. Namun dari masa ke masa citra wanita terus diperbahrui oleh insan-insan sastrawi nusantara.

Awal tahun 2000 yang biasa disebut sebagai era millenium, corak baru meramaikan dunia sastra di Indonesia. Corak baru tersebut lahir dari goresan-goresan pena perempuan Indonesia yang mulai mencuat kuat , dan timbul secara pesat mengisi atmosfer sastra di Indonesia yang telah marak oleh coretan-coretan keperkasaan pria. Pada tahun ini dunia sastra diramaikan oleh karya-karya perempuan, mungkin bisa disebut sebagai luapan feminisme kaum hawa Indonesia. Wanita lebih bebas dan berani berbicara dengan medium sastra.  Tulisan-tulisan mereka biasa disebut sebagai sastrawangi ataupun sastra feminis. Namun bila berbicara tentang sastra feminis dengan karya yang juga mengupas tentang laku-laku feminis, sebenarnya laki-laki penulis di Indonesia pun tak sedikit yang membuatnya dalam bentuk sastra. Namun yang disoroti disini adalah tentang sebuah karya dari perempuan dan untuk perempuan, buah karya tersebut telah lahir dari goresan tangan Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi lestari, Tamara Geraldine, Fira Basuki, dan masih banyak lagi sastrawan yang lain. 

Tentu saja aliran feminis tersebut tidak dapat lepas dari pemikiran-pemikiran atau pengaruh dari luar karena maraknya era global. Keberanian itu muncul seiring dengan berjalannya waktu, pemikiran-pemikiran itupun sebagai efek dari era postmodernis yang dibentuk oleh globalisasi yang meradang setiap segi kehidupan, termasuk dunia sastra. Sesungguhnya sebuah paham feminis memiliki visi memperjuangkan hak-hak kaum perempuan yang tertindas, namun demikian dalam penerapannya feminisme itupun memikliki karakter masing-masing ada feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme moderat, juga feminisme eksistensialis. Julia Kristeva, Luce Irigaray, dan Naomi Wolf menjadi sosok yang kental dengan aroma feminis. Pemikiran-pemikiran dan perjuangan mereka diadopsi oleh wanita-pengarang Indonesia dalam upaya menciptakan sebuah karya feminis.     

Bila kita lihat selama ini, uraian-uraian yang dicap sebagai karya feminis dalam novel-novel maupun cerpen-cerpen Indonesia sebagian besar berbicara tentang perempuan dan seks yang seolah-olah dekat sekali dengan perempan, atau dengan kata lain anggapan selama ini yang beredar yang menempatkan wanita sebagai simbol seks dan objek tercover dan mencuat berkebalikan. Wanita tak lagi digambarkan sebagai sosok yang hanya dijadikan sebagai objek tetapi subjek dalam seks. Wanita lebih memilki kebebasan dalam menjalankan misinya sebagai perempuan. Perempuan berbicara sebagai perempuan. Hal tersebut dieksplor dalam karya-karya sastra goresan pena Djenar Maesa Ayu maupun Ayu Utami dalam karyanya yang berjudul "Jangan Main-Main dengan Kelaminmu", Si Parasit Lajang, Saman dan Larung, dan masih banyak lagi karya-karya yang lain. Mereka menceritakan semuanya dengan tanpa beban akan ketabuan yang akan ditimbulkan. Meskipun pro dan kontra berkecamuk dalam proses peredarannya di permukaan namun mereka tetap berkarya, dan memperkaya dunia sastra Indonesia dengan karakter mereka masing-masing. Banyak juga karya sastra berbau feminis yang tidak berbicara tentang seks di dalamnya,namun sebuah perjuangan perempuan yang lebih dieksplor di dalamnya. Karya-karya Lanfang dan Fira Basuki misalnya.

Ikon seks yang terbentuk dari sebuah nama yaitu wanita atau perempuan tersebut bisa jadi karena memang wanita adalah makhluk yang indah dan karena lekuk demi lekuk tubuhnya menimbulkan hasrat yang dalam, sehingga seks biasa dikaitkan dengan sosok perempuan. Namun dibalik itu perempuan juga memilki kekuatan yang dahsyat dalam mengaktualisasikan dirinya dalam front perjuangan. Wanita lebih memiki kelembutan dan kekhsan tersendiri dibanding pria. Maka dari itu segala sisis yang dimilki oleh perempuan memang menarik untuk diekspos dalam sebuah karya terutama sastra. Wanita itu indah, begitu pula sastran. Sastrapun "dulce at utile"  yakni menghibur dan menyenangkan. Maka dari itu kolaborasi antara sastra dan wanita memang sangat pas dan menarik.

Senin, 18 Mei 2009

Balai Pustaka Muara Sastra

Setiap masa memahat sejarahnya. Para sastrawan mengemasnya dalam sebuah karya yang memberi warna di setiap sisi, sehingga sejarah dan bumi setiap jengkalnya selalu terabadikan oleh goresan-goresan pena pujangga Indonesia. Membaca dan menapaktilasi sejarah sastra Indonesia di awal pertumbuhannya (dengan embel-embel modern) adalah membaui haru-biru aroma itu. Mereka (para seniman-sastrawan tempo dulu), bagi kita setidaknya, bukan menggores percik hampa atau sebatas merajut frase luka. Tapi juga menelorkan sebuah formula. Bila kita mengurai fragmen-fragmen yang terendap dalam periskop sejarah, meskipun melalui kolofon momen historis. Bukan saja berniat menyaring debu timpangnya, melainkan juga untuk mengelaborasi zaman; menyembulkan seribu kejernihan yang menyembunyi. Bertolak dari keadaan itu, menurut Gandhi, berkaca pada pengalaman India yang koloni Inggris, pada awalnya melalui teks kaum kolonialis mengontrol bangsa, lalu menghegemoni negara. Namun melalui teks pula masyarakat negeri ini berekspresi dan menemukan ruang reaksi yang paling tajam. Mereka menelanjangi selubung kepentingan kapitalisme beserta ideologinya dengan senjata teks, meskipun persenjataan fisik (alutsista) juga punya peran penting.

Dalam perjalanannya, sastra Indonesia menampilkan karakternya masing-masing. Beragam misi diemban oleh para pujangga. Dalam sejarahnya, kita lalu mengenal tradisi sastra Balai Pustaka (BP), yang bahkan tradisi ini dijadikan pijakan lahirnya sastra Indonesia modern. Meskipun di masa yang bersamaan, hidup pula beratus tradisi yang entah itu dengan sebutan apa. Mungkin karena seringnya absen diperbincangkan dalam konstelasi sejarah sastra. Tradisi ini banyak digeluti para seniman-sastrawan, terutama penulis partikelir di Nusantara. Mereka inilah yang pada zaman kolonial sering kena cemooh rezim penguasa dengan buah karya ''bacaan liar'' dan stigma sastra genre ''roman picisan''. Para sastrawan dan peneliti sekarang lebih familiar dengan menyebutnya sebagai tradisi sastra non-Balai Pustaka (non-BP).Novel-novel terbitannya yakni Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar, Siti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli, Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939) karya HAMKA, Tak Putus Dirundung Malang (1929) dan Layar Terkembang (1936) karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA), Katak Hendak Jadi Lembu (1935) karya Nur Sutan Iskandar dan masih banyak lagi

Sejarah mencatat pasang surut munculnya ratusan penulis dan penerbit partikelir (mungkin juga ribuan) dari kalangan pribumi. Karya-karya mereka masih menggunakan bahasa Melayu rendahan/pasaran. Dan inilah satu pembeda yang mencolok dari verbalisasi sastra ala BP (novel-novel tradisi BP menggunakan bahasa Melayu tinggi/standar). Tulisan mereka hadir menelusup dan mengurai sendiri yang disembunyikan rezim yang menunggang sejarah. Tak ayal, kala itu, tiap papan yang tergores oleh karya mereka, kerap menebarkan ritme resistensi. Mungkin nama negatif yang lekat selama ini, karena watak subversifnya. Pengarangnya kebanyakan orang-orang kiri, karena gerak yang dengan terang-terangan mengikhtiarkan perlawanan atas hegemoni pusat (kuasa kolonial). Hingga pemerintah Belanda mengecapnya sebagai ''bacaan liar''. Riwayat pengarangnya seperti H. Moekti dengan Hikajat Siti Mariah (1910); Tirto Adhi Soerjo dengan Boesono (1910) dan Nyai Permana (1912); Mas Marco Kartodikromo dengan Studen Hidjo (1918), Sjair Rempah-rempah (1919), Mata Gelap (1919) dan Rasa Merdika (1924); Semaoen dengan Hikajat Kadiroen (1920) dan ratusan riwayat pengarang yang lain.

Banyaknya bacaan liar yang disikapi pemerintah kolonial dengan phobia tersebut bagaikan kekuatan subversif inlander (dalam karya sastra) mampu mengguncang keangkuhan penghuni negeri rendah itu. Kolonialis masih menyimpan kepercayaan tinggi akan kedahsyatan ekses kata-kata yang (mungkin) tertuang, terselip atau sengaja dijepitkan penulis yang rata-rata kiri itu. Pendek kata, kekuatan artikulasi sekelompok inteligen (baca: intelektual) itu diyakini Belanda sebagai anasir perlawanan. Karena itulah, dengan semena-mena dan tindakan represif, kolonialis berusaha menyumbat suplai bacaan untuk rakyat; dengan membredel, menyegel puluhan mungkin juga ratusan penerbit swasta, bahkan memenjarakan si pengarang. Akan tetapi, sebagai inteligen, yang telah sengaja berniat menggariskan diri pada fungsinya: penyuara nurani rakyat, para pengarang itu tak pernah gentar melawan. Dan nasionalismelah, sejatinya umpan pembiakan ''roman picisan'' di era kolonial itu. Rasa nasionalisme putra Indonesia yang tinggi menjadi dasar meletupnya produksi sastra ini.

Meskipun dikecam sebagai bacaan liar, kata subversif tentu tak selamanya bernada melawan secara negatif. Bahkan kalau ditelisik ke masa lalu, gerakan subversif sastra justru bermuatan sebaliknya (wujud riil heroisme yang tinggi). Maka, tak aneh bila karya sastra yang dilahirkan pengarang-pengarang pribumi itu dulunya merupakan karya sastra yang paling diburu masyarakat. Baik penikmat sastra murni maupun bukan. Tradisi BP yang nota bene sebagai penerbit tunggal (baca: resmi) bagi pemerintah jajahan, tidak banyak diminati. Karena tradisi sastra BP diopinikan sebagai anak kandung kolonialis. Dengan begitu, tentu dianggap berafiliasi ke pemerintahan Hindia Belanda. Meskipun di lain tempat, tradisi sastra di luar itu --sastra oposan, roman picisan (non-BP)-- dianggap pemerintah sebagai anak jadah yang kelahirannya sangat tidak diharapkan. Dan, termasuk dalam tradisi ini adalah karya sastra yang produsennya orang-orang peranakan Eropa/indo (keturunan dari hasil perkawinan pribumi dan Eropa), dan peranakan Tionghoa.

Tradisi sastra peranakan Eropa yang pengarangnya menaruh hati pada penderitaan inlander itu semisal Max Havelaar oleh Multatuli --nama samaran Eduard Douwess Dekker, yang jamak kita ketahui punya kecenderungan menentang praktik kolonialis dan superioritas warga Eropa di tanah Hindia. Iwan Simatupang pada satu kesempatan pernah menyebut mereka ini sebagai ''Paradoks dari Kolonialisme''. Karena sang kolonial sendirilah yang pada hakikatnya menanamkan benih-benih pembangkangan terhadap kolonialisme. Contoh lain adalah Rubber (1931) karya Madelon Hermine Szekely-Lulofs. Novel ini cukup banyak peminatnya dari kalangan pribumi. Bahkan oleh pemerintah Hindia, pengarangnya dianggap pengkhianat, seperti halnya Max Havelaar yang reaksioner. Sampai-sampai M.H. Szekely-Lulofs dijuluki ''Multatuli Perempuan''. Kemudian, Drama Di Boven Digoel karya Hoay (peranakan Tionghoa), di mana Rieger (1989) menganggapnya sebagai karya monumental yang hanya dapat disejajarkan dengan roman-roman ''Pulau Buru''-nya Pramoedya Ananta Toer.

Benarkah seperti yang diyakini para pengamat sastra saat ini, terutama para pemerhati sastra poskolonial, bahwa pendirian sebuah kantor dan penerbitan kala itu yang bernama Kantoor Voor de Volkslectuur/Kantor Bacaan Rakyat (1917) yang merupakan pergantian dari Commisie Voor de Inlandsche School en Volkslectuur (1908), hanya sebuah usaha tandingan mematikan kreativitas bumi putra dengan karya picisannya yang reaksioner? Juga hanya sebatas jalan melapangkan politik etis (balas budi) picik Belanda; dalam hal ini misi edukasi yang merupakan salah satu peranti bagi pembenahan tragedi kemanusiaan Cultuur Stelsel (tanam paksa).

Apalagi, juga tercium desas-desus, berdirinya BP pada mulanya sengaja diniatkan untuk menyumbat aliran bacaan liar yang kian deras, yang membuat gerah pemerintahan Belanda. Indikasi dari adanya dugaan tersebut, bisa dilihat dari karya-karya terbitan BP pra-kemerdekaan yang menokohkan bangsa penjajah sebagai protagonis; begitu pula mengelu-elukan tokoh-tokoh inlander yang mendukung bangsa penjajah. Aura ini bisa kita rasakan pada novel Siti Nurbaya (1922), Salah Asuhan (1928), dan semacamnya. Kendati karya-karya BP tidak jamak berwatak demikian. Dalam artian, tidak semua karya BP mendukung status quo penjajah. Sebaliknya, karya-karya yang diterbitkan para penerbit partikelir (swasta) menampilkan sosok pujangga Indonesia sebagai tokoh-tokoh antagonis yang terstigma jahat, licik, penjilat, dan picik.

Berdasarkan analisis kontemporer, novel-novel yang seakan memprotagoniskan penjajah itu berwatak subversif. Hanya saja, kata-kata subversif yang tersirat dalam novel tak terbaca masyarakat. Berbeda dengan tradisi sastra non-BP yang kontras menghadapi tirani. Dengan pencipta yang rata-rata golongan kiri, dengan bahasa yang berapi-api (tersurat); menghasut untuk memberontak dan reaksioner. Novel-novel seperti ini bukan pula novel yang diklaim masuk jajaran anakronis (menyalahi zaman). Mungkin karena mewarisi karakter yang sebenarnya dari jati diri bangsa saat itu (rindu kebebasan dan lelah dieksploitasi). Sastra non-BP tak jarang juga lebih bisa menampilkan hal-hal yang menarik, dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tema-tema yang diangkat pun dapat mewakili realitas yang ada (mengambil peristiwa-peristiwa nyata yang populer), meskipun kurang mempertimbangkan dampak moral maupun politisnya. Toh, kendati tetap disebut bacaan liar atau roman picisan (panglipur wuyung), nyatanya sastra non-BP dalam masyarakat pribumi kala itu, tetap lebih dominan dibanding sastra tradisi BP. Jadi apakah sastra Indonesia modern dipatok dari tradisi BP atau angkatan Pujangga Baru, sebagai angkatan yang cukup mewakili karya-karya di masa penjajahan itu?

Dengan menengok kembali sejarah sastra Indonesia, adalah sebuah usaha mendefinisikan ulang secara riil kesusastraan dan kebudayaan Indonesia secara terus-menerus. Kapan sastra Indonesia modern ada dan mengada, semua berawal dari membaca dan menyingkap sisi lain dari sastra Indonesia itu sendiri. Hal ini juga merupakan sebuah perjuangan untuk menempatkan kembali bahasa nasional sebagai wahana menyatukan ke-bhinekaan Nusantara.

Kamis, 23 April 2009

Merah Putih Bersastra

Indonesia memiliki banyak potensi di dalamnya, termasuk bersastra. Telah banyak sastrawan yang lahir dari perut Indonesia. Dunia sastra di Indonesia semakin berkembang dan mahir dari tahun ke tahun. Pada mulanya sastra Indonesia ini tak dapat terlepas dari pengaruh sastra dunia. Karakter sastra yang kental diadopsi oleh bangsa Indoinesia sebagai penciptanya adalah sastra Melayu lama. Nama Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi melekat dalam sejarah awal pembentukan sastra di Indonesia. Bnyak hal yang melatar belakangi kemunculan karakter sastra Indonesia yang penuh dinamika dari masa ke masa. Indonesia memiliki angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, serta Angkatan muda pembaharu yang menciptakan puisi-puisi modern seperti saat ini.
Selain puisi ada juga genre novel dan cerpan dalam sastra tulis Indonesia. Dari tahun ke tahun perkembangan dan pergolakan dunia sastra di Indonesia semakin pesat. Tua, muda, kecil, besar, kaya, miskin bersastra untuk Indonesia dengan berbagai macam karyanya. Indonesia sangat kaya akan hasil buni, akan laut, hutan, dan masih bnanyak lagi kekayaan didalamnya yang dapat dieksplor menjadi sebuh karya yang indah oleh insan-insan di dalamnya. 
Dunia sasta di Indonesia diramaikan oleh berbagai karakter dan gaya berbahasa ratusan bahkan ribuan sastrawan, dari yang beraliran realisme, religius, romantis, ekspresionis, impresionis, teologis, bahkan absurd. Dengan karyanya yang beraroma nasionalis, sosialis bahkan feminis. dunia tersebut dalam perkembangannya tak dapat lepas dari kemajemukan Indonesia yang menciptakanbanyak ide dan gagasan yang ingin dieksplor, pengaruh dari dunia global, bahkan berbagai hal yang berkecamuk di bumi Indonesia yang akhirnya menimbulkan kegairahan sastra untuk berbicara, karena sastra bisa berbicara apapun dengan gaya apapun.  
Segala sisi dapat dibidik oleh dunia sastrawi, pengarang-pengarang Indonesia pun amat peka dengan hal itu, sehingga Indonesia tak pernah haus akan karya. Indonesia Teruslah Berkarya!!! Merdeka!!!!